Mata kuliah fonologi mengawali pagi kami di IAIN Syekh Nurjati di hari ini. Hatiku tidak tenang. Sambil bergelantungan di angkutan kota, saya cemas untuk menghadapi mata kuliah ini. Sambil terus menahan pegangan agar tidak terjatuh ketika 'si supir' ngerem mendadak dan nancap gas, butuh keahlian khusus memang.
Kecemasan saya dilatarbelakangi oleh ketidaksiapan saya untuk tampil di mata kuliah fonologi untuk menyanyikan lagu ciptaan sendiri tentang fonologi. Tugas ini memang tugas kelompok yang harusnya menjadi beban kelompok. Kami, satu kelompok Mba Alfi, Yani, Imah, Kang Ali memang secara kompak belum siap. Apalagi kemarin libur. Hari Selasa, teman satu tim kami Kang Ali sedang berduka. Kami memang kelompok yang kompak.
Kemarin sore, Mbak Alfi mengingatkan saya tentang tugas untuk hari ini via sms. Ia tidak mengetahui tugasnya apa dan bagaimana. Saya yang terlena sedang liburan bersama keluarga, ditambah suasana pegunungan yang sejuk dan terutama tak ada sinyal merasa kesulitan untuk membalas sms itu. Ya sudah, saya biarkan sampai sms itu terkirim sendiri. SMS itu baru terkirim sekitar pukul 5 sore.
Kegiatan mbak Alfi di pesantren yang sibuk membuat kami kesulitan berkomunikasi. Saya pun berinisiatif mengirim pesan ke Imah dan Yani. Imah membalas, namun Yani tidak. Sepertinya Yani sedang tidak ada saldo pulsa. Imah juga tidak mengetahui apa tugasnya. Mungkin karena perintahnya kurang jelas, dan kami tidak menanyakan kembali ke dosen waktu itu. Aku mengatakan seingat aku, tugas untuk kelompok kami adalah membuat lagu tentang klasifikasi bunyi bahasa. Namun, seingat mbak Alfi harus membuat PPT. Jadilah aku membuat lagu, sembari mendownload PPT dan materi seadanya. Tugas autobiografi versi transkripsi fonetik tak lupa aku kerjakan. Mengedit tugas menyimak I juga aku lakukan.
Sambil ditemani acara televisi yang tak aku acuhkan sama sekali, berperang melawan nyamuk-nyamuk musim hujan yang menjengkelkan, serta dinginnya udara. Jari-jariku beradu dengan keyboard laptop menghasilkan mahakarya lagu tentang klasifikasi bunyi bahasa.
Setelah itu, aku mengirim file tugas fonologi ke email Imah, tugas menyimak ke email Aisyah. Sedikit kuladeni acara televisi yang sedikit aneh, namun aku suka, Tenggelamnya Kapal Pak Burik. Hmm, bayangin judulnya aja, gimana gitu ya. Tak kuladeni lama-lama, aku ingin tidur pada pukul satu pagi.
Bangun pukul setengah 6 bukan masalah, karena aku sedang tidak diwajibkan shalat, yang menjadi masalah adalah aku harus bersiap-siap menuju sekolah dengan sangat cepat.
Sampai kampus, aku langsung duduk dengan teman satu tim membicarakan mengenai tugas. Menghapal lagu, dosen pun datang, saya khawatir dosen ingat tugas untuk kami.
30 menit kemudian ternyata beliau ingat. Beliau meminta kami untuk tampil menjelaskan dengan media power point dan makalah, yang jelas bertolak belakang dengan tugas kami minggu kemarin. Kami memang tidak siap, tapi kami PD aja hehe. Mbak Alfi sebagai moderator, Kang Ali dan saya sebagai penyaji, Yani notulen, dan Imah operator.
Ketika kami tiba di sesi pertanyaan, ada pertanyaan yang menarik yaitu pertanyaan dari Febri Nugraha "Mengapa menurut kalian bunyi W termasuk ke dalam klasifikasi kontoid bilabial? Sesuai yang kalian jelaskan, bilabial adalah pertemuan dua bibir. Padahal kan, bunyi W gak nempel-nempel amat?"
Setelah beberapa pertanyaan terkumpul, kami penyaji menjawab pertanyaan menyenai bunyi W ini.
Saya pun menanggapi pertanyaan ini, "Ayo teman-teman, mari kita ucapkan W, EW, IW, AW, nempel kan bibirnya? Jadi bunyi W itu seperti sepasang kekasih (dua bibir) yang hubungannya menjadi renggang karena jarang bertemu."
Setelah mulai ngaco, para pemirsa gemas dan mencoba melontarkan argumen-argumen mereka.Kami, para presenter dadakan menemukan jawabannya dalam buku Abdul Chaer. Jadi dalam bilabial ada klasifikasi lagi, bunyi W termasuk ke klasifikasi bilabial renggang.
Naah, bener kan sepasang kekasih yang hubungannya menjadi renggang karena jarang bertemu.
Ketika kami tiba di sesi pertanyaan, ada pertanyaan yang menarik yaitu pertanyaan dari Febri Nugraha "Mengapa menurut kalian bunyi W termasuk ke dalam klasifikasi kontoid bilabial? Sesuai yang kalian jelaskan, bilabial adalah pertemuan dua bibir. Padahal kan, bunyi W gak nempel-nempel amat?"
Setelah beberapa pertanyaan terkumpul, kami penyaji menjawab pertanyaan menyenai bunyi W ini.
Saya pun menanggapi pertanyaan ini, "Ayo teman-teman, mari kita ucapkan W, EW, IW, AW, nempel kan bibirnya? Jadi bunyi W itu seperti sepasang kekasih (dua bibir) yang hubungannya menjadi renggang karena jarang bertemu."
Setelah mulai ngaco, para pemirsa gemas dan mencoba melontarkan argumen-argumen mereka.Kami, para presenter dadakan menemukan jawabannya dalam buku Abdul Chaer. Jadi dalam bilabial ada klasifikasi lagi, bunyi W termasuk ke klasifikasi bilabial renggang.
Naah, bener kan sepasang kekasih yang hubungannya menjadi renggang karena jarang bertemu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar