Minggu, 06 Desember 2015

Jalan gue

Gagal sekolah kedokteran bukan berarti gua harus berhenti berkarya. Yes, gue gagal. kata orang mungkin gue terlalu tinggi bermimpi dan berusaha. Benar juga kata orang, tapi ada salahnya juga.
Apa salahnya?

Kalo gue mimpi terlalu rendah, gue 90% akan dapetin mimpi itu. Tapi jika gue mimpi jauh lebih tinggi, yaa mungkin 10% peluangnya (bukan hitungan sebenarnya ya). Gue bahkan ga dapetin mimpi itu, tapi kita akan menemukan hal-hal yang (kata orang) sedang-sedang saja -kaya lagu ya.
Gue pernah denger kutipan film yang bilang kalo mimpi/usaha jangan 100%, buat jadi 1000% biar yang 100% lo dapetin (maaf kalo salah).
Contohnya gue, usaha mati-matian (ah lebay) buat gue sekolah di kedokteran. Segala macem tes di UI dan UNS gue ambil. Tapi, gue gagal.
Hmm, mungkin karena gue terlalu tinggi ambil negeri yang IH WAW persaingannya itu, gue ambil swasta. Persaingannya lumayan sih. Gue diterima di tahap pertama (seleksi otak) dan gue kalah di seleksi duit. Hmm duit. Gue bertekad ikut tes kedokteran tahun depan, tapi negeri ya. gue ga kapok negeri, gue lebih kapok swasta. DIPHPIN.... SAKIT
Lalu gue tes di IAIN Syekh Nurjati. Di sini ga ada jurusan Pendidikan Dokter sih, adanya yaa paling IPA ya Biologi. Tapi gua ga ambil itu. Gue ambil bahasa Indonesia di pilihan pertama, dan Bahasa Inggris di pilihan kedua. Finally....
Gue sekarang kuliah di IAIN Syekh Nurjati Jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Hmmm, macem-macem sih penilaian orang. Ada yang menganggap wow, ada yang merendahkan, ada yang biasa aja. Termasuk gue, nganggepnya biasa aja (awalnya). Masuk ke lingkungan yang IAIN yang santri banget itu rasanya kayak paling berdosa men haha. Baju gue kekecilan waktu itu. Gue kenalan orang-orang dari berbagai macam latar belakang, anak MA, santri, temennya santri, temennya temennya santri, temennya temennya temennya santri, ada juga yang kaya gue anak BIASA STANDAR YABEGITULAH. 
Pas gue dalemin IAIN, disini ada tes Ma'had, tes bahasa Arab, tes bahasa Inggris, apalagi ya oya PPTQ dan puskom.
Ma'had itu semacem dorm, asrama, atau lebih tepatnya pesantren. Gue yang ga lolos tes Ma'had, harus ikut pembelajaran di Ma'had artinya gue harus nyantri di sini. Tapi nyantrinya ga seribet pesanten pada umumnya sih.
Gue ga lolos tes bahasa Arab, gue harus ikut intensif bahasa arab di tahun pertama. Gue juga ga lolos tes bahasa inggris, gue juga harus ikut intensif bahasa inggris di tahun kedua.
PPTQ dan puskom itu tergolong ke pelatihan/mata kuliah 0 SKS. Ga masuk ke SKS tapi ini penting banget. Kalo gue ga lolos, gue akan kesusahan ngurusin beasiswa, KKN, dan skripsi.
Susah, ya. susah banget bagi gue yang BIASA STANDAR YABEGITULAH. Tapi di sini gue mulai berubah perlahan dari cara berpakaian, cara berbicara, cara bergaul, cara membaca al-qur'an.
Gue bertemu temen-temen yang luar biasa keren, SILVIA, SHOFUROH, SELLA, YAYAH, MU, YANI, IMAH dan semuanya. Mereka yang membuat gue tertawa menjalani kegiatan perkuliahan yang luar biasa menguras air mata ini (ga gitu juga sih).
Begitulah cerita gue setelah gue lama menghilang.
See you guys.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar