Gagal sekolah kedokteran bukan berarti
gua harus berhenti berkarya. Yes, gue gagal. kata orang mungkin gue
terlalu tinggi bermimpi dan berusaha. Benar juga kata orang, tapi ada
salahnya juga.
Apa salahnya?
Kalo
gue mimpi terlalu rendah, gue 90% akan dapetin mimpi itu. Tapi jika gue
mimpi jauh lebih tinggi, yaa mungkin 10% peluangnya (bukan hitungan
sebenarnya ya). Gue bahkan ga dapetin mimpi itu, tapi kita akan
menemukan hal-hal yang (kata orang) sedang-sedang saja -kaya lagu ya.
Gue
pernah denger kutipan film yang bilang kalo mimpi/usaha jangan 100%,
buat jadi 1000% biar yang 100% lo dapetin (maaf kalo salah).
Contohnya
gue, usaha mati-matian (ah lebay) buat gue sekolah di kedokteran.
Segala macem tes di UI dan UNS gue ambil. Tapi, gue gagal.
Hmm,
mungkin karena gue terlalu tinggi ambil negeri yang IH WAW
persaingannya itu, gue ambil swasta. Persaingannya lumayan sih. Gue
diterima di tahap pertama (seleksi otak) dan gue kalah di seleksi duit.
Hmm duit. Gue bertekad ikut tes kedokteran tahun depan, tapi negeri ya.
gue ga kapok negeri, gue lebih kapok swasta. DIPHPIN.... SAKIT
Lalu
gue tes di IAIN Syekh Nurjati. Di sini ga ada jurusan Pendidikan Dokter
sih, adanya yaa paling IPA ya Biologi. Tapi gua ga ambil itu. Gue ambil
bahasa Indonesia di pilihan pertama, dan Bahasa Inggris di pilihan
kedua. Finally....
Gue sekarang
kuliah di IAIN Syekh Nurjati Jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Hmmm,
macem-macem sih penilaian orang. Ada yang menganggap wow, ada yang
merendahkan, ada yang biasa aja. Termasuk gue, nganggepnya biasa aja
(awalnya). Masuk ke lingkungan yang IAIN yang santri banget itu rasanya
kayak paling berdosa men haha. Baju gue kekecilan waktu itu. Gue kenalan
orang-orang dari berbagai macam latar belakang, anak MA, santri,
temennya santri, temennya temennya santri, temennya temennya temennya
santri, ada juga yang kaya gue anak BIASA STANDAR YABEGITULAH.
Pas gue dalemin IAIN, disini ada tes Ma'had, tes bahasa Arab, tes bahasa Inggris, apalagi ya oya PPTQ dan puskom.
Ma'had
itu semacem dorm, asrama, atau lebih tepatnya pesantren. Gue yang ga
lolos tes Ma'had, harus ikut pembelajaran di Ma'had artinya gue harus
nyantri di sini. Tapi nyantrinya ga seribet pesanten pada umumnya sih.
Gue
ga lolos tes bahasa Arab, gue harus ikut intensif bahasa arab di tahun
pertama. Gue juga ga lolos tes bahasa inggris, gue juga harus ikut
intensif bahasa inggris di tahun kedua.
PPTQ
dan puskom itu tergolong ke pelatihan/mata kuliah 0 SKS. Ga masuk ke
SKS tapi ini penting banget. Kalo gue ga lolos, gue akan kesusahan
ngurusin beasiswa, KKN, dan skripsi.
Susah,
ya. susah banget bagi gue yang BIASA STANDAR YABEGITULAH. Tapi di sini
gue mulai berubah perlahan dari cara berpakaian, cara berbicara, cara
bergaul, cara membaca al-qur'an.
Gue
bertemu temen-temen yang luar biasa keren, SILVIA, SHOFUROH, SELLA,
YAYAH, MU, YANI, IMAH dan semuanya. Mereka yang membuat gue tertawa
menjalani kegiatan perkuliahan yang luar biasa menguras air mata ini (ga
gitu juga sih).
Begitulah cerita gue setelah gue lama menghilang.
See you guys.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar